Kisah Kamu #2: Perjalanan Saya dan Tarot

Awal mula kenal Tarot itu akhir tahun 2008 tepatnya bulan November. Saat itu ketika saya sedang berkunjung ke salah satu toko buku yang terletak di pojokan Jl. Jendral Sudirman Jogja, tiba-tiba mata saya tertuju ke sebuah buku berwarna biru dongker yang berjudul ‘Tarot Cara Membaca dan Menafsirkannya’.

Tetapi ketika melihat buku tersebut saya tidak lantas membelinya dan saat itu saya hanya berkata dalam hati jika memang saya ditakdirkan untuk memiliki buku itu maka entah bagaimana caranya pasti saya akan memilikinya. Tidak lama kemudian salah satu sahabat saya yang tinggal di Jakarta menelpon saya ketika dia berada di sebuah pameran buku. Sebenarnya saat itu, saya meminta tolong ke dia untuk membelikan saya sebuah buku. Tetapi ternyata buku yang saya inginkan tidak ada disana.

Kemudian teman saya bertanya apakah saya mau dibelikan buku Tarot? Karena dia tau betul kalau sejak dari SMA saya menyukai dunia ramal meramal dan menurut dia buku Tarot tersebut cocok buat saya, hingga akhirnya saya pun mengiyakan tawaran sahabat saya tersebut. Dan jadilah saya punya satu set buku beserta deck Tarot untuk pertama kalinya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas bahwa dunia ramal meramal sebenarnya memang sudah tidak asing lagi bagi saya karena saya memang menyukai dunia ramal meramal sejak saya duduk di bangku SMA. Pada saat itu saya belum mengenal Tarot, maka saya menggunakan kartu remi. Saya pun menggunakan kartu remi ini sebagai media ramal meramal hingga saya duduk di bangku kuliah.

Selang satu tahun setelah saya lulus kuliah barulah saya mengenal kartu Tarot hasil pemberian sahabat saya tersebut. Ternyata setelah saya belajar Tarot, barulah saya mengerti kartu remi itu berasosiasi dengan arkana minor dari kartu Tarot. Kemudia saya mengenal Tarot lebih dalam lau mengetahu bahwa kegunaan dari kartu Tarot sendiri sangat luas. Hal itulah yang membuat saya semakin tertarik untuk mendalaminya hingga sekarang.

Alasan saya kenapa memilih tarot sendiri adalah karena Tarot itu bisa dipelajari oleh siapa saja tanpa harus mempunyai sixth sense atau kemampuan khusus. Disamping itu juga tidak perlu perlu pembimbing. Demikian halnya dengan saya, saya belajar Tarot secara otodidak hanya dari membaca buku yang diberikan oleh sahabat saya tadi.

Awal-awal saya belajar membaca Tarot saya masih suka ‘ngepek’ alias nyontek buku ketika melakukan pembacaan. Hal ini berlangsung selama hampir dua tahun. Saat itu saya hanya melakukan pembacaan Tarot untuk teman-teman dekat saja. Respon dari mereka sangat bagus, mereka mengatakan bahwa pembacaan kartu Tarot saya hampir mendekati benar. Namun saat itu saya belum benar-benar percaya diri untuk membaca Tarot untuk orang awam.

Keseriusan saya untuk mendalami Tarot muncul ketika saya memutuskan untuk meninggalkan kota Malang dan kembali ke Jogja di pertengahan tahun 2011. Pada saat itu pula saya memutuskan untuk membeli deck saya pertama kali yaitu deck Celtic Dragon karya Lisa Hunt.

Celtic Dragon Tarot

Dan sepertinya kembali ke Jogja benar-benar membuka peluang saya untuk banyak belajar tarot hingga saya dipertemukan oleh teman-teman tarot yang ada di Jogja di bulan Februari tahun 2012, hingga pada akhirnya di bulan berikutnya kami mendirikan Komunitas Tarot Dewaroetji.

Begitulah kiranya perjalanan singkat saya mengenal kartu tarot. Semoga dapat memberikan inspirasi bagi teman-teman semua.


Tentang Kontributor :

Iffa Jayana

a life traveler who loves drink coffee, sleep, reading books, listening music, meet new people and get new experience.

Blog : tarotbyiffa.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *