Kisah Kamu #3: Cermin Kartu Dari Kertas

Saya tidak ingat pertama kali mendengar kata Tarot, atau kapan pertama kali melihat kartu Tarot, atau sejak kapan saya mendengar pendapat tarot identik dengan ramal atau sihir. Bahkan yang baru-baru ini kaitan Tarot dengan ilmu psikologi. Walau dulu ketika awal tahun 2000-an saya pernah melihat di toko buku Gramedia, dimana salah satu lapak di dalam Gramedia menjual kartu tarot bertema wayang dan buku yang menyertainya, saya hanya melihat sambil lalu. Sama sekali tidak ada ketertarikan untuk mengetahui, sekedar bertanya atau membaca bukunya. Bahkan ketika ada pendapat teman di saat ngobrol bahwa tarot identik dengan sihir, setan, dan ramal saya juga tidak pernah menanyakan sumber pemikiran dia darimana, kenapa dia bisa berpendapat seperti itu, saya tidak tertarik dengan obrolan itu dan mencari topik bahan obrolan lain.

Saya membaca banyak buku, dan jika itu untuk menghibur diri, melepaskan diri dari realitas dan mencari inspirasi maka buku misteri, fantasi, konspirasi dan supranatural cukup mengasyikkan untuk dibaca. Karena rasa ke ‘kepo’ an yang tinggi dengan hal yang aneh-aneh, berikut dengan bacaan yang aneh-aneh juga, di tahun 2003 ketika ada acara TV Dunia Lain menjadi hiburan yang semakin aneh. Jika acara TV tersebut bertempat di Yogya, maka lokasi itu akan saya datangi bersama teman-teman. Semacam wisata supranatural, penuh rasa ingin tahu tinggi. Dus, saya dan teman-teman tidak menemui atau mengalami hal aneh waktu itu. Kata teman-teman yang lain seharusnya bersyukur tidak mengalami gangguan, sedang yang skeptis berkata itu hanya settingan hiburan TV tidak ada yang perlu di khawatirkan. Pendapat saya, masih sederhana saja, rasa ingin tahu, kepo. Tapi saya tetap bersyukur tidak terjadi sesuatu apapun yang merugikan secara supranatural (yang seperti film horor) dan tetap berusaha berpikir logis.

Misteri, fantasi, konspirasi dan supranatural hanya bertahan di alam pikiran dan buku, sama sekali belum pernah mengikuti komunitas dan kelompok yang berbau supranatural atau spiritual. Walau rasa ingin tahu tetap ada, hal itu sedikit teralihkan dengan dunia kerja, dan penyaluran rasa ingin tahu dari membaca buku menuju hal bersifat tulis-menulis. Hingga di tahun 2012, saya bekerja sebagai customer service di salah satu klinik hipnoterapi di Yogyakarta. Dari salah satu terapis saya mendengar cerita tentang Tarot sebagai alat terapi, konseling, dan dapat dijelaskan secara psikologis. Hal yang baru bagi saya yang ‘kepo’ dan masih menganggap tarot sebagai hal yang berbau ‘supra’ dan ‘ramal’. Beruntung bagi saya terapis ini meminjami saya banyak buku mengenai tarot, salah satunya adalah ‘Tarot Wayang’ dari bu Ani Sekarningsih dan ‘Tarot dan Psikologi Simbol’ karangan Leonardo Rimba dan Audifax. Petualangan di Dunia Tarot dimulai.

Hal yang unik dari awal belajar Tarot adalah simbol dan manusia dalam memahami sesuatu tidak lepas dari simbol-simbol visual. Seperti pepatah ‘Gambar Bermakna Ribuan Arti’ seperti itulah Tarot bekerja, Seperti Cermin dimana kita memaknai diri sendiri, Instrospeksi dalam mengenal diri sendiri, dan ketika kita mengenal diri sendiri kita bisa menentukan aksi, pilihan dari berbagai banyak aksi, aksi yang akrab bagi diri, aksi yang kita sadari untuk dipilih.

Tarot dianggap ramal ketika orang yang menginginkan untuk dibacakan Tarot menyerah pada hasil bacaan Tarot. Bukan menikmati proses bacaan dengan menanyakan detil kemungkinan berbagai aksi yang akan dipilih atau jika tidak bisa menentukan aksi yang dipilih, dengan Tarot menentukan berbagai Aksi yang dipilih berdasar bacaan simbol visual Tarot. Apakah berbagai pilihan aksi itu akan menyelesaikan permasalahan? Bisa ya dan tidak, bagi saya jawabannya adalah “Gnothi Seauton”, sebuah pesan dari bahasa Yunani, yang berarti “Kenali dirimu”. Dalam sebuah tekanan mental dan tekanan emosi, dalam ketidakstabilan, akan sangat sulit dalam menentukan keputusan, sangat sulit mencapai ketenangan yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan, dan sulit menentukan alternatif aksi dalam sebuah permasalahan.

Banyak cara dan metode untuk mencapai ketenangan dalam pengambilan keputusan, pembacaan tarot adalah salah satunya. Gambar simbol tarot, bahkan bagi yang belum berpengalaman, ketika dijelaskan arti simbol, bahkan secara metafora menjadi cermin bagi yang dibacakan. Cermin untuk mengenali diri, mencari aksi yang dibutuhkan, lebih bertanggung jawab terhadap aksi yang dipilih.

Simbol Tarot ketika dijabarkan, membuka ingatan-ingatan dari bawah sadar bagi yang dibacakan. Ketika ingatan itu dimunculkan dan dikeluarkan dalam bentuk konseling dan curahan hati. Akan melepaskan sesuatu yang mengganjal, dan melepaskan tekanan mental.

Apakah setelah penjelasan di atas Tarot bisa dilepaskan dari stereotype ramal? Jawaban saya tetap tidak. Tidak bisa ditampik beberapa pengguna Tarot menggunakannya sebagai media ramal. Apakah ramal sendiri adalah hal yang buruk? Maka saya kembalikan kepada pendapat tiap orang. Media Ramal atau Psikologi, jika tarot digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas mental dan emosi, akan lebih banyak yang menerima media Tarot itu sendiri .

Bagi saya pribadi, Tarot adalah sebuah kartu dari kertas, sebuah kertas yang bergambar simbol, simbol dengan banyak arti, sebuah simbol berbentuk kartu, yang bisa digunakan sebagai cermin. Kertas yang bisa dibakar, lecek karena air, bisa disobek karena tipis. Tarot adalah Cermin Kartu dari Kertas.

16 Januari 2018

——-

Tentang penulis

Yan Yudha

seorang penyuka dan pembelajar tarot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *