6 Syarat Menjadi Tarot Reader

6-Syarat-Menjadi-Tarot-Reader-e1486519239377

Sebelumnya sih tidak pernah terpikir ada suatu profesi menjadi seorang pewacana/pembaca Tarot (Tarot Reader). Saya yakin sebagian besar pecinta Tarot sekarang ini pada awalnya hanya sekedar iseng, ingin bisa meramal atau tertarik dengan gambarnya, simbol dan juga ilmu esoteris di belakangnya.

Hingga pada suatu ketika, ada seorang klien yang bertanya pada saya saat selesai dibacakan kartunya.

Mbak, kalau mau belajar Tarot syaratnya apa saja sih?

Awalnya sih bingung juga ketika ditanya seperti itu. Saat itu hanya bisa kujawab “Yang penting niat belajar dan punya kartunya“.

Oh. Terus kalau gak punya indera keenam bisa juga baca Tarot?

Oke. Pertanyaan ini rada bikin kening berkerut. Meski pertanyaan itu wajar ditanyakan, namun pada jaman dahulu kala saat kenal Tarot malah pertanyaan itu sama sekali tidak terlintas di pikiran. Setauku kartunya itu yang sakti trus ntar bisikin jawabannya.. hahhaha. (tolong ya.. ini satire).

Setiap manusia itu punya indera keenam kok. Tinggal kamu mau melatihnya atau tidak. Toh, Tarot ini bisa dipelajari dengan pengetahuan memahami gambar dan simbol, kemampuan menganalisa lalu menggunakan pola sebab akibat untuk dijabarkan dalam kalimat metafora dengan komunikasi yang logis.

Klienku cuma manggut-manggut. Entah dia paham atau tidak, karena tidak ada pertanyaan lagi sesudahnya.

Sampai pada akhirnya bukan hanya sekali saja pertanyaan ini diajukan, sehingga saya pun udah meramu jawaban tersendiri untuk menjawabnya. Uraian yang saya tuliskan ini berdasarkan pengalaman saya sendiri, kalian boleh saja tidak sependapat, karena saya pun tentu masih bisa belum benar betul. Saya hanya sekedar berbagi apa yang sudah saya lakukan.

6 Syarat Menjadi Tarot Reader.

  1. Niat & komitmen.

Niat ini merupakan dasar dari segala keinginan diri untuk melakukan sesuatu. Sedangkan komitmen adalah janji yang dibuat untuk melakukan sesuatu.

Niat yang baik itu yang memang muncul dari hati nurani kita sendiri. Pastikan kamu sudah mengetahui apa yang akan kamu tekuni ini. Jika kamu sudah membuat pilihan untuk menekuni tarot, maka buatlah komitmen untuk terus menekuninya apapun yang terjadi. Jika perlu, dapat kamu tulis untuk mengingatkan kembali di saat kamu dihinggapi rasa ragu, bimbang, malas dan berbagai hal lain yang membuatmu tidak melanjutkan niat awalmu itu.

     2. Punya kartu.

Jelas, ini wajib ya. Terserah kamu mau beli sendiri, diberi orang, atau nemu di jalan. Intinya kamu punya komplit satu set kartu Tarot yang komplit 78 kartu. Emm.. paling tidak 22 arkana mayor deh.

Apalagi buat yang baru belajar, kamu harus memahami setiap detil simbol dan gambar yang ada pada setiap kartumu. Oke, kata kunci bisa dipakai, namun untuk lebih dekat dengan kartumu, kamu harus tau si three of cups itu cangkirnya ada berapa, The Magician itu tangannya yang menunjuk ke atas itu tangan apa. Ya, ini berlaku untuk yang belajar sistem RWS, untuk sistem lain, ya disesuaikan saja. Jika kamu tidak punya kartunya, gimana mau ngetes bacanya?

     3. Mental yang sehat dan kuat.

Menurut KBBI, mental adalah  bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.

sedangkan definisi kesehatan mental menurut Harold W. Benard adalah  penyesuaian individu terhadap dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya dengan seefektif mungkin, senang hati, kegembiraan, dan tingkah laku sosial yang baik, serta kemampuan untuk menghadapi dan menerima kenyataan hidup.

Menurut Zakiyah Darojah, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi jiwa, serta kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

Mengapa harus memiliki mental yang sehat?

Ketika kita memiliki mental yang sehat, keterbukaan pikiran itu menjadi salah satu contohnya. Kita memandang segala sesuatu tidak hanya dari satu sudut pandang saja, karena kebenaran itu relatif.

Dalam bercengkrama dengan tarot pun dibutuhkan kemampuan untuk memahami kode simbol, gambar dan metafora yang tertera pada setiap lembar kartu lalu menjelaskannya  menjadi bahasa “manusia” yang masuk akal dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (kecuali jika kamu memanfaatkan tarot untuk menulis fiksi ya..). Jika kamu menggunakan tarot untuk membaca diri sendiri dan atau orang lain, tentunya dibutuhkan kejernihan pikiran untuk dapat membedakan pemikiran subjektif dan selalu berusaha melihat dari berbagai sudut pandang agar objektivitas bacaan selalu terjaga. Gak mau dong kartu yang kebaca jelek terus atau bagus terus namun ternyata tidak cocok dengan kondisi sesungguhnya.

Ditambah lagi, saat sesi pembacaan Tarot, seorang pewacana tarot diharapkan dapat memberikan ide, gagasan, nasehat bijak yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi seorang kliennya. Jika kondisi seorang pewacana tarot terganggu secara mental, apakah klien akan terbantu? atau malah menjadi semakin bermasalah?

Hal ini juga yang mendasari saya untuk terkadang menolak untuk membacakan klien jika kondisi mental saya sedang amburadul. Ya, saya masih manusia biasa loh, punya masalah pribadi juga dan jika belum bisa menyeimbangkannya, sementara tidak usah memaksakan diri membaca untuk klien. Daripada klien ikut amburadul kan kasihan. Bahasa keren yang kadang saya pakai, Duh, maaf ya, kartu-kartunya sedang tidak mau bicara denganku. 😀

Kok ada mental kuat segala?

Ini sih untuk yang memang mau menekuni secara profesional, ya. Wajib punya mental kuat, karena yang akan dihadapi tidak hanya problema diri sendiri, tapi juga orang lain. Ingat loh, masalah orang itu bukan mainan. Meski dalam hidup itu kita tidak harus terlalu serius, tapi ketika menghadapi klien dengan masalah serius, kita tidak bisa bercanda juga. Belum lagi menghadapi beraneka ragam jenis manusia yang sifat dan sikapnya yang aduhai. Jadi kamu perlu melatih mentalmu lebih kuat lagi setiap harinya.

     4. Komunikasi yang baik.

Kamu tidak harus menjadi seorang ahli pidato atau MC dulu kalau mau belajar tarot, namun paling tidak, menguasai dasar komunikasi yang baik itu sudah cukup.

Beberapa hal diantaranya; bagaimana kamu mengatur kata-kata, intonasi suara, kontak mata, mimik wajah dan gerak tubuh/gesture yang membuat klien memahami apa yang kamu sampaikan sekaligus merasa nyaman menceritakan masalahnya kepadamu. Kepercayaan klien merupakan kunci sukses Anda. 😀

Berkomunikasi tidak hanya kemampuan bicara, melainkan juga memiliki kemampuan menjadi pendengar yang baik. Tidak semua orang itu bisa menjadi pendengar yang baik, loh. Terkadang kita lebih suka banyak berbicara dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk bicara juga. Bahkan, saat mendengarkan pun kita tidak menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh orang lain. Kita hanya sekedar pasang telinga, membiarkan mereka bercerita lantas menjawab sekenanya, sekiranya masih nyambung. Makanya ada istilah mendengarkan dengan hati yang kerap didengungkan. Itu, penting!

     5. Bersikap bijaksana.

Yah. Kedengarannya berat ya? BIJAKSANA.

Mari kita cek artinya di KBBI.

1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; 2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dan sebagainya) apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya.

Nah, ga seserem bayangannya kan? Bijaksana itu bukan berarti kamu harus selalu mengutip kata-kata mutiara, atau berdandan ala profesor Dumbledore terus memberikan berbagai macam petuah yang berat-berat ala simbah-simbah atau ustadz. Namun, bersikap bijaksana disini lebih mengedepankan penggunaan akal budi dan bersikap hati-hati dalam segala perbuatan yang kamu lakukan pada diri sendiri maupun orang lain. Sadar apapun yang kamu lakukan memiliki konsekuensi. Bisa bertanggungjawablah, minimal terhadap diri sendiri.

Contohnya ya,  misalkan kamu suka banget sama tarot. Terus kamu ingin mengoleksinya. Kondisinya gaji pas-pasan, cicilan belum lunas, harga kartu impor itu mahal. Eh, ngotot beli dua deck impor dalam sebulan. Alhasil, puasa deh setengah bulan karena uang gaji dipakai buat beli deck semua. Perbuatan ini sungguh tidak bijaksana.

Kalau mau jadi bijaksana, pastikan dulu prioritas finansialmu sudah tercukupi, barulah bisa membeli deck tarot. Bisa juga kamu tabung sedikit demi sedikit dalam beberapa bulan. Sengiler apapun, jika pikiranmu jernih, kamu ga akan memaksakan diri membeli deck yang pada akhirnya hanya akan nangkring di pojok lemari dan jarang dipakai. (*ada sedikit pengalaman pribadi sih ini.. hahahha).

Termasuk dalam sikap bijaksana ini adalah kejujuran. Artinya, kamu memahami hukum sebab akibat. Ketika ada beberapa hasil bacaan yang sekiranya kurang pantas dibacakan, kamu bisa menolak untuk memberikan jawaban. Tidak semua pertanyaan klien harus dijawab. Kita harus bisa memformulasikan pertanyaan klien menjadi lebih memperbaiki dirinya dibanding sekedar menjawab dengan polos apa adanya. Jika suatu saat kamu ditanya klien tentang kebenaran pasangannya selingkuh atau tidak. apa yang mau kamu jawab?

Kamu harus mampu memperkirakan kesesuaian cerita klien dan juga kondisi mentalnya. Jikapun memang terbaca ada indikasi ke arah sesuai yang ditanyakan, jawablah dengan pertimbangan yang logis dan kamu mampu menanggung konsekuensi dari jawaban yang diberikan.

     6. Mau terus belajar.

Syarat terakhir ini memang umum, namun juga penting diketahui untuk pewacana tarot. Berlatihlah sebanyak mungkin, dan juga mempelajari berbagai keilmuan lain yang dapat mendukung bacaanmu.

Wawasan yang luas akan menjadi penolong dalam memperkaya hasil bacaan tarotmu. Meski sudah ada kata kunci yang dapat dipelajari atau dihapalkan, namun wawasan tentang berbagai hal akan menjadikan bacaanmu lebih hidup dan mengena.

Tidak ada batasan akhir dalam pewacaan tarot. Teknik dan kreatifitas dalam tarot akan terus berkembang. Tarot tidak hanya akan menjadi teknik ramal saja, namun dapat digunakan sebagai  healing, penulisan cerita, dan juga perkembangan spiritualmu sendiri.

Selalu ada lapisan langit di atas langit. Sehingga kita tetap harus memelihara sifat rendah hati seakurat apapun bacaan kita. Ingatlah masih ada yang Maha Mengetahui segalanya, jadi ketika kita memiliki kemampuan mengintip sedikit atau banyak tentang kehidupan, itu hanyalah secuil debu di lautan pasir.

Semoga apa yang saya bagikan disini bermanfaat. Boleh saja ditambahkan syarat lain yang menurutmu sesuai, lalu praktekkanlah. Saya sendiri masih terus melatih keenam poin syarat sebagai tarot reader ini agar selalu selaras dan harmonis dalam perjalanan tarot saya.

Love and Light,

LN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *